Mocoan Lontar Yusuf Kini Mulai Digandrungi Kalangan Milenial

0
58
Caption : Sampul buku Lontar Yusuf karya Wiwin Indiarti.

SRONO (kabarbanyuwangi.co.id) – Tradisi mocoan Lontar Yusup yang sudah lestari di kalangan masyarakat Oseng, yang berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, tampaknya bakal meluas. Bahkan, tidak hanya di Kemiren saja, melainkan tempat lain, aktivitas ini mulai terlihat.

Seperti yang dilakukan di rumah salah satu warga Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, Banyuwangi pada Jumat malam (02/11/2018) lalu. Sejumlah pemuda melakukan kegiatan pembacaan Lontar Yusuf. Dalam kesempatan itu, penggiat tradisi Oseng Adi Purwandi juga tampak menyertai selama kegiatan berlangsung.

Menurut Wiwin Indiarti salah satu akademisi yang ikut dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, saat ini keberadaan Lontar Yusup sebenarnya bisa dikatakan masih cukup terjaga. Terlebih lagi dari teks tulisan tersebut sudah mulai banyak dibukukan ulang. Namun, belakangan ini untuk tata cara pengucapan atau tradisi pembacaan (mocoan) disertai nada sudah mulai jarang.

‘’Tujuannya untuk melestarikan. Kalau tulisan kan awet.  Tapi kalau tembang kan gak semua itu bisa,” ucapnya.

Untuk itu, kegiatan rutinan yang digagas dengan melibatkan banyak anak muda ini tidak lain untuk memperbanyak jumlah orang yang bisa memabaca sekaligus melafalkan sesuai dengan tembang yang selama ini ada. Pihaknya juga melibatkan para tetua Desa Kemiren dengan harapan bsia menjadi pembimbing dalam hal teknis membaca lontar ini.

‘’Kita berpacu dengan waktu. Mumpung masih ada yang bisa,” ucap perempuan penulis buku Lontar Yusup Banyuwangi: Teks Pegon, Transliterasi dan Terjemahan ini.

Sementara itu, Adi Purwandi juga menyampaikan, pihaknya melihat tradisi Mocoan Lontar ini sebenarnya dulu ada dan berkembang di berbagai kawasan yang didiami warga Oseng. Namun, seiring perkembangan zaman saat ini hanya  mengerucut di Desa Kemiren saja.

Dengan adanya kalangan muda yang terlibat dan tertarik  mempelajari lontar ini, pihakanya optimistis ke depan akan semkain berkembang.

“Dulu, di desa-desa Oseng ada.  Namun saat ini hanya ada di Kemiren,” ungkap singkat pria yang akrab disapa Kang Pur ini.

Reporter: C5/KB Banyuwangi
Editor/Publisher: Eko Prastyo