Melihat Peragaan Busana Pedestrian di Banyuwangi

0
14
Caption: Fashion On The Pedestrian, digelar dalam rangkaian Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2018.(Foto:  Istimewa).

BANYUWANGI (kabarbanyuwangi.co.id) – Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar fashion on the pedestrian. Puluhan busana batik karya desainer Banyuwangi disajikan para peraga di sepanjang trotoar Taman Blambangan, Jum’at sore (16/11/2018).

Meski digelar di trotoar, busana yang ditampilkan para model ini terlihat apik. Mereka memeragakan bermacam busana dengan bahan batik khas Bumi Blambangan motif ‘gedhegan’. Mereka berlenggak-lenggok menyusuri pedestrian ruang terbuka hijau yang terletak di jantung kota Banyuwangi tersebut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan event ini diperuntukkan khusus bagi para desainer dari Banyuwangi. Karya mereka akan dinilai para juri sebagai salah satu cara untuk mendapatkan desainer yang berkualitas.

“Even ini kembali kita gelar untuk mendorong dan merangsang desainer, pembatik dan model lokal agar lebih percaya diri. Ini adalah panggung bagi desainer lokal untuk menampilkan karya-karyanya,” kata Anas.

“Selain untuk promosikan batik, event ini sekaligus bentuk kampanye untuk mengembalikan fungsi trotoar untuk pejalan kaki,” imbuh Anas.

Fashion on pedestrian adalah rangkaian kegiatan Banyuwangi Batik Festival (BBF). Acara puncak BBF akan digelar pada Sabtu malam, (17/11/2018) Pada tahun ini, BBF mengangkat tema “Gedhegan”, salah satu motif batik khas Banyuwangi.

Sejumlah desainer nasional terlibat dalam BBF ini. Ada Ali Charisma, Priscilla Saputro, Dewa Gita, dan Nely Gunawan, juga desainer busana batik asal Italia, Milo Miliavicca, Salah satu desainer yang terlibat dalam BBF, Priscila Saputro menilai dari tahun ke tahun gelaran ini sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Mulai dari kreativitas desain hingga pemilihan warna sudah bagus.

“Saya rasa batik Banyuwangi sekarang maju dan sangat kreatif jauh dari tahun sebelumnya. Bahkan ada beberapa desain yang kreativitasnya tak terbatas. Meskipun batiknya dikombanasi dengan kain-kain lain pemilihan warnanya tetap matching dan berkelas. Kami para juri sampai bingung,” kata Priscila.

Priscila juga menilai batik Banyuwangi sudah layak masuk pasar nasional. “Saya rasa batik Banyuwangi ini punya nilai jual yang tinggi. Para pembatik saya lihat sudah bisa mengikuti selera pasar nasional,” kata dia. Hal senada juga disampaikan Ali Charisma jika event ini juga sudah naik kelas.

“Selain kreatif, para desainer juga sudah bisa memadukan warna secara apik. Saya pun juga melihat kualitas jahitan para desainer lokal sudah semakin halus,” katanya.

Event yang berlangsung hingga jelang malam ini berjalan dengan meriah. Digelar di trotoar pinggir jalan, peragaan busana ini menarik minat banyak wisatawan. Seperti yang diungkapkan Firdian, pelancong asal Surabaya. Menurutnya, event ini tidak hanya menghibur tapi juga menumbuhkan kreatifitas warga.

“Desain bajunya bagus-bagus. Tadi sempat kaget aja saat tahu kalau sebagian besar busananya ini adalah karya para peserta sendiri. Benar-benar kreatif,” kata pria 28 tahun tersebut. 

Reporter: C1/KB Banyuwangi
Editor/Publisher: Eko Prastyo