Hoax dan Bagaimana Hindu Menanggapinya

0
65

Oleh: Made Rai Lintang K.

Kita semua tahu fakta bahwa Hindu merupakan agama tertua yang pernah lahir di muka bumi. Walaupun dulu belum dikotakkan menjadi Agama, dan tidak dibatasi tuntunannya hanya dengan  sebuah Buku (Kitab Suci). Hindu lahir dan besar bersama semesta beserta seluruh pertanda alamnya.

Melihat sejarah Hindu yang begitu luhur dan panjang, maka bohong jika Hindu tidak pernah ditimpa oleh isu yang entah kenapa akhir – akhir ini menjadi komoditi paling menarik dibincangkan oleh banyak pihak, Hoax. Dari yang paling sering saja, mengenai informasi Hindu penyembah batu, Hindu bukan agama wahyu bahkan hingga berita bohong tentang kerajaan Majapahit yang bukan merupakan kerajaan Hindu, dengan mahapatihnya yang bernama Gaj Ah-Mada. Apaan coba?

Terlalu panjang sejarah agama kita menghadapi terpaan berita bohong yang tentu saja mendiskreditkan Agama kita, dan terbukti Hindu tidak pernah tumbang. Bahkan hingga detik ini kita semakin paham dan kuat sebagai individu maupun sebagai kesatuan.

Namun, di tengah Hoax yang semakin kencang seiring berjalannya (yang katanya ) pesta politik 5 tahunan Indonesia, bagaimana pandangan Hindu terhadap Hoax / informasi bohong?

Dalam Susastra Suci Wraspatti Tattwa disebutkan :

Pratyaksanumanasca krtan tad wacanagamah pramananitriwidamproktam tat samyajnanam uttamam. Ikang sang kahanan dening pramana telu, ngaranya, pratyaksanumanagama.

Adapun orang yang dikatakan memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan yang disebut Pratyaksa, Anumana, dan Agama.

Pratyaksa ngaranya katon kagamel. Anumana ngaranya kadyangganing anon kukus ring kadohan, yata manganuhingganing apuy, yeka Anumana ngaranya.

Pratyaksa namanya (karena) terlihat (dan) terpegang. Anumana sebutannya sebagai melihat asap di tempat jauh, untuk membuktikan kepastian (adanya) api, itulah disebut Anumana.

Agama ngaranya ikang aji inupapattyan desang guru, yeka Agama ngaranya. Sang kinahanan dening pramana telu Pratyaksanumanagama, yata sinagguh Samyajnana ngaranya.

Agama disebut pengetahuan yang diberikan oleh para guru (sarjana), itulah dikatakan Agama. Orang yang memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan Pratyaksa, Anumana, dan Agama, dinamakan Samyajnana (serba tahu).

(Wrespati Tattwa Sloka 26)

Dari sloka ini jelas, Hindu memberikan kita tuntunan dalam menanggapi sebuah berita, dalam rangka mencari kebenaran kita wajib melalui setidaknya salah satu dari tahap ini. yaitu dengan Pratyaksa Pramana (Mengalami langsung), Anumana Pramana (Melihat sebab / akibatnya) dan Agama Pramana (Mendengar langsung dari orang yang kompeten).  Namun kenapa kita sebagai umat Hindu sendiri masih saja termakan hoax?

Hal ini kejadian sama saya sendiri, walaupun hoaxnya sih nggak jelek sebenarnya. Suatu saat seorang kawan kerja saya kaget dan dengan wajah sumringah menyalami saya dengan girangnya saat bertemu.

“Bro selamat, udah nikah ya!”

(Dalam hati saya pengen bilang iya, cuma takut nanti dikasih amplop) “Belum Bro… dapet berita dari mana?” 

Sudah sepenuh hati meyakinakan kalau saya belum menikah, mulai dari, menunjukkan jari manis yang belum ada cincinnya sampai sumpah ke Hyang Gledek tetap tidak dipercaya.. dia masih bersikeras percaya kalau saya sudah menikah. Sebenarnya yang cukup miris, begitu saya tanya kenapa dia begitu yakin (melebihi saya sendiri) kalau saya sudah menikah, dia menjawab :

” Ya itu PP Whatsaapmu bro.. lagi dansa sama cewek cantik banget pakai pakaian mewah”

Eh gilaa… foto saya bersama pasangan waktu memberikan penampilan kejutan saat nikahan kakak saya itu dijadikan satu satunya sumber yang ia percaya.. bahkan melebihi saya yang melihat, mengetahui bahkan mengalami sendiri. Hingga akhirnya dengan segala hormat saya terima amplopnya sebagai doa untuk mempercepat pernikahan saya. Haha

Memang, manusia dengan segala kekurangannya masih selalu percaya jika kebenaran parsial yang dia percayai adalah kebenaran yang sesungguhnya, tidak peduli atas kebenaran lainnya. Padahal,  kalau saja kawan saya ini mau mengaplikasikan konsep Tri Pramana dalam kehidupannya, dia tidak hanya tidak akan kehilangan amplop bowoh (sumbangan pernikahan)nya saja, namun dia juga berpotensi dapat diberikan gelar Samprayana, manusia yang serba tahu.

Tidak seharusnya hanya menjadikan pengelihatan secara tidak langsung seperti foto di sosial media atau cerita tidak langsung dari tetangga yang jelas tidak tahu duduk perkaranya menjadi satu satunya justifikasi atas berita yang kita dengar. Jika saja ia mau datang langsung ke acara pernikahan tersebut, atau mau melihat tanda tandanya atau setidaknya percaya saja dengan ucapan saya, yang tentu saja kompeten dalam hal “siapa yang nikah” ini, dia tidak akan ikut golongan yang percaya kabar bohong kan? atau lebih parahnya lagi ikut menyebarkan.

Maka dari itu, jika anda suatu saat nanti bertemu lagi dengan berita, apapun itu, segetol apapun anda ingin menyebarkannya, selalu ingat Tri Pramana,  jika anda tidak melihat dan merasakan, tidak mengetahui sebab musababnya dan tidak mendengar langsung dari orang yang berkompeten, jangan berani berani ikut menyebarkan. Karena, lebih baik kita terlambat menyebarkan kebaikan daripada terburu buru menyebarkan kebodohan bukan?

Artikel ini disadur dari: Hindu Jatim