Gubernur Jatim : PGRI Merupakan Agen Perjuangan Pendidikan

0
21

SUMENEP (kabarbanyuwangi.co.id) – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi agen perjuangan di bidang pendidikan. Oleh sebab itu Pemerintah Provinsi mengucapkan terimakasih kepada PGRI provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur.

Pemprov Jawa Timur merasa bangga terhadap keberadaan PGRI dan guru yang ada di Jawa Timur. Oleh sebab Pemprov Jawa Timur mempunyai tanggung jawab untruk membayar honor 21.174 semua guru honorer GTT di Jawa Timur, meskipun masih ada kekurangan dan pada 2019 nanti akan dibayar 14 kali.

“Inilah bentuk pedulian Pemprov Jawa Timur terhadap keberadaan guru honorer GTT,” ujar Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, yang akrap dipanggil Pak De Karwo saat menghadiri Hari Guru Nasional HUT ke 73 PGRI Hari Aksara Internasional ke 53 Pemprov Jawa Timur 2018 di Gor A.Yani Sumenep, (17/11/2018).

Dalam Sambutannya Gubernur meminta guru melalui PGRI Jawa Timur meningkatkan kemampuan pengetahuannya tentang teknologi informasi, agar bisa memberikan proteksi pengaruh negatifnya kepada siswa, sehingga siswa cerdas dalam menggunakan teknologi informasi.

Gubernur menyatakan, guru tidak sebatas bertanggungjawab mengajar mata pelajaran kepada siswa, namun juga harus mendidik moral, etika, integritas, dan karakter dalam rangka memfilter pengaruh buruk perkembangan teknologi informasi.

Perkembangan teknologi informasi itu ibarat pisau bermata dua, satu sisi meningkatkan pengetahuan untuk pengembangan sumber daya, namun sisi lain juga membawa dampak negatif melalui informasi seperti konten hoax, ujar kebencian dan pornografi.

“Seiring perkembangan teknologi informasi itu, harus bisa memfilter dan bersikap cerdas, agar tidak terpengaruh dampak negatifnya melalui budaya, spritual, moral dan etika.” tuturnya.

Menyinggung soal angka buta aksara di Jawa Timur yang termasuk zona merah, Gubernur menyampaikan, sejatinya penduduk di Jawa Timur tidak buta aksara, sebab mereka yang termasuk buta aksara bisa membaca Al-Qur’an dan menulis dengan Bahasa Arab.

Namun ketentuan internasional yang tidak termasuk penduduk buta aksara adalah masyarakat bisa membaca dan menulis dengan huruf latin, tentu saja masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis dengan huruf latin termasuk buta aksara.

Gubernur juga berpesan kepada guru yang tergabung di PGRI agar jangan sampai turun ke jalan berdemotrasi hingga sampai Pilpres nanti, kalo ada permasalahan mari duduk nersama untuk mencari titik temuka, bukan harus turun ke jalan solosinya.

Ketua Umum PGRI, Unifah Rasyidin, mengatakan PGRI merupakan organisasi profesi yang ditantang agar mampu menggerakan guru, pendidikan dan tenaga pendidikan memberikan andil tidak hanya dalam pendidikan di sekolah.

Tetapi harus merasa terpanggil untuk ikut melahirkan pemikiran transpormatif dan dalam pengembangan kebijakan pemerintah, pemerintah daerah dalam pengelolaan pengembangan pusat daerah dalam melahirkan berbagai gagasan tindakan inovatib sesuai tantangan abat ke 21.

PGRI organisasi profesi yang lahir pada ranak kandung evolusi kemerdekaan. PGRI merupakan rumah besar bagi guru, tenaga pendidikan akan terus ,memperjuangkan harkat martabat Guru. Puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN), HUT ke-73 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-53 Provinsi Jawa Timur tahun 2018 di Kabupaten Sumenep  dihadiri Sekitar 55 ribu guru.

Reporter: KB Sumenep
Editor/Publisher: Eko Prastyo